Anak Saya Juara. Dan Saya Resah





Minggu 18 Desember 2005
Hari ini Amartya, anak kami, merayakan Natal Sekolah Minggu. Dan, saya terperanjat ketika putri kami satu-satunya itu dinyatakan sebagai juara II di kelasnya, kelas anak-anak kelas I SD di Sekolah Minggu GKI Kwitang. Konon kategori penilaian adalah keteladanan, kerajinan, kepatuhan dan kepintaran.

Swear, istri dan saya tak pernah berharap ia akan menjadi juara. Di mata kami, Marty adalah anak biasa-biasa belaka. Dan, kami senang ia jadi anak biasa saja.

Tetapi gurunya ternyata berpendapat lain. Lalu dia jadi juara.

Sebenarnya bukan kali ini saja Marty juara. Ketika Marty duduk di Sekolah Minggu Balita, ia juga sudah pernah jadi pemenang. Dan, kami waktu itu menganggapnya sebagai hiburan belaka. Mungkin saja karena guru-guru Sekolah Minggu kenal mama Marty, yang selalu rajin nongkrongin Marty ikut Sekolah Minggu. Atau bisa saja mereka agak sungkan kepada saya, yang dalam sebuah forum orang tua murid Sekolah Minggu, pernah ngomong panjang lebar dan rada cerewet yang intinya mendukung guru Sekolah Minggu.

Yang kami sedikit kaget adalah ketika di ulangan tengah semesternya September lalu, Marty oleh sekolahnya, SD Bukit Nusa Indah, dinyatakan juara II untuk kelasnya. Sungguh kami tak membayangkan. Anak kami yang kadang-kadang sulit benar dibangunkan pagi hari, masih sulit menulis huruf r dengan baik, ternyata mendapat nilai yang bagus. Dan juara II pula.

Nah, sekarang muncul lagi hal yang mengejutkan kami. Kemenangan Marty kali ini di Sekolah Minggunya, benar-benar tak kami duga. Guru-guru Sekolah Minggu Marty sudah tak terlalu mengenal kami lagi, karena Marty Sekolah Minggu sudah sangat jarang ditemani ibunya. Dan kalau saya mengintip dia ketika belajar di Sekolah Minggu itu, saya melihatnya bukan murid yang menonjol untuk selalu dengan tangkas dan cepat menjawab pertanyaan. Ia sungguh seperti anak biasa belaka. Dan saya suka anak saya jadi anak biasa.

Tetapi kini dia juara.

Di jalan pulang dari gereja, ia berbisik kepada saya. “Pa, sebagai hadiah saya juara, bagaimana kalau kita singgah di Gramedia, beli ‘map’ untuk kertas-kertas surat berwarna? (Saya tidak tahu pasti apa namanya. Yang jelas itu sedang tren diantara anak-anak SDnya)”

Saya dengan serius memberi jawaban begini. “Boleh Nak. Dan, tidak hanya karena juara maka saya akan membelikanmu itu. Biar pun kamu tidak juara, Papa akan membelikannya. Asal Papa punya uang.”

Sambil mengatakan itu, saya sedikit gugup dan resah. Ingat ketika saya masih seusia Marty.

Dulu di SD, saya dan adik-adik selalu menjadi langganan juara. Bahkan sampai SMP. Ayah saya guru SMP dan ibu guru SD. Sebagai keluarga guru, mereka menanamkan semangat kepada kami bahwa kami harus jadi orang pintar. Jangan sampai mereka malu oleh prestasi kami anak-anaknya. Semangat semacam ini memang bukan hanya ada pada ayah dan ibu. Saya pernah melihat tetangga kami yang juga guru, menampar anak perempuannya di depan rumahnya karena si anak tidak naik ke kelas II SMP.

Maka saya dan adik-adik berusaha untuk tidak sampai mempermalukan kedua orang tua. Hampir sepanjang SD saya selalu menjadi juara. (Jangan bayangkan saya orang pintar seperti para anak-anak jenius juara olimpiade sains itu. Ini hanya juara SD kelas kampungan kok). Begitu juga adik-adik saya. Bahkan, bila saya bandingkan, adik-adik saya itu lebih hebat. Mereka lebih tangkas menjawab pertanyaan dan nilai mereka selalu lebih tinggi.

Karena langganan jadi juara, prestasi juara bagi kami kerap tak menghadirkan surprise. Menjadi juara seolah-olah sudah harus kami terima dengan pikiran, ‘sudah begitulah seharusnya.’ Bahkan pada tahap selanjutnya, menjadi juara itu jadi beban. Pernah sekali waktu di SMP, rangking saya melorot hingga ke nomor 20-an, dari 100 lebih siswa. Wah, ayah dan ibu saya kecewa luar biasa. Mereka tidak menyatakannya tetapi jelas terlihat dari cara mereka membaca rapor saya. Saya yang sudah mulai remaja kala itu sedikit merasa bersalah. Tetapi rasa bersalah saya lebih karena penyesalan, mengapa saya tidak dilahirkan sebagai anak orang biasa belaka, bukan anak guru. Sebab kalau saya bukan anak guru, prestasi seperti itu semestinya tak jadi masalah.

Dituntut selalu menjadi juara jelas tidak enak. Dan, itulah yang saya patrikan diam-diam dalam hati. Saya tidak ingin lagi menyiksa anak saya dengan beban untuk selalu menjadi juara. Saya ingin anak saya menikmati masa kecilnya dengan menjadi dirinya sendiri. Dengan menjadi anak biasa belaka, dengan ‘sepatu’ dan ‘pakaian’ yang pas bagi dirinya. Bukan dengan ‘sepatu’ dan ‘pakaian’ orang lain.

Untuk menjadi orang tua yang begini juga tak kalah sulitnya. Kadang-kadang, persaingan antarsesama orang tua murid kerap terjadi lebih kencang dibandingkan dengan para murid-murid itu sendiri. Makanya saya masih sering mendenagr mamanya Marty lupa untuk tidak menuntut anaknya macam-macam. Ketika sedang mempersiapkan buku pelajaran Marty malam-malam, saya masih sering memergoki dia sedikit kesal dan berkata begini: “Kok nilainya hanya 8 sih, Nak? Itu si X dapat 9. Lain kali teliti dong kalau mengerjakan soal.”

Wah, kalau ibunya sudah berkata begini, dan saya melihat Marty putri kami mulai berkaca-kaca matanya, kok saya ikut jadi sedih. Saya ikut merasakan beban seorang anak yang selalu dituntut perfect. Dan itu sangat berat.

Maka saya berusaha lagi mengingatkan Ibunya bahwa Marty adalah anak biasa. Sama seperti kedua orangtuanya orang biasa. Ia tak perlu menjadi juara untuk menjadi manusia. Hidup tak selalu dimenangkan oleh para juara (Seperti Papa Marty, yang akhirnya jadi manusia biasa juga walau waktu SD selalu juara). Saya selalu bilang kepada mamanya Marty, biarlah anak-anak tumbuh menjadi dirinya sendiri. Juara atau tidak, sepanjang apa yang ia lakukan ia tahu tujuannya, sepanjang ia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan segenap jiwanya, kita orang tuanya seharusnya bergembira dan mendorongnya.

Sebab pada akhirnya, menjadi juara atau tidak hanya lah sebagian dari hasil. Dan itu juga adalah penilaian manusia biasa juga. Di ajang Indonesian Idol bahkan di American Idol saja, tak selalu juara I yang berhasil di dunia nyata. Iis Sugianto (ehm, kata orang dia ini penyanyi cengeng. Tapi saya suka sekali suaranya) dulu hanya meraih juara harapan dalam lomba bintang radio DKI Jakarta. Tapi di dunia rekaman, ia menjadi penyanyi top. Bahkan orang tak sempat tahu dan tak mau tahu siapa yang jadi bintang radio yang menyebabkan Iis terpental jadi juara harapan….

Nah, Amartya, anak kami. Kami senang kau jadi juara. Dan kami akan lebih senang lagi jika gelar itu makin membuat kau menjadi manusia biasa seutuhnya.

Selamat ya Nak…

Jakarta, 18 Desember 2005
© Eben Ezer Siadari

Keterangan foto: Marty dan hadiahnya, seusai Natal Sekolah Minggu GKI Kwitang







Link